Cahaya Hati


“Do’a Malaikat Pemikul “Arsy
Sebagian dari rahmat allah Swt, yang tiada terbilang yang dicurahkan bagi hamba-Nya adalah bahwa, setiap hari dan setiap saat, para malaikat pemikul ‘Arsy dan malaikat disekitarnya gemuruh membaca dzikir dan do’a. mereka berdzikir memuja kebesaran Allah Swt, dan mereka berdo’a buat kaum mu’minin di bumi ini. Dalam suatu riwayat dinyatakan bahwa gemuruhnya dzikir,takbir dan istigfar seta do’a para malaikat (dalam jumlah yang besar), ini telah didengar langsung oleh Rasulullah Saw, sebelum beliau melihat malaikat jibril di Sidrotul Muntah, dalam proses Isra’ Mi’rajnya.
Al-Qur’an mengabarkan do’a para malaikat pemikul ‘Arsy itu dalam rekamannya di surat al-Mu’min (QS. 40: 7-9) : “ (malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang barada disekelilingnya bertasbih memuji tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan) : “ ya Tuhan kami, rakhmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampun kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala. Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka  ke dalam surga ‘And yang telah engkau janjikan kepada mereka, dan orang-orang yang shaleh di antara bapak – bapak mereka, dan istri –istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan pelihaaralah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang – orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugrahkan rahmat kepadanya dan itulah kemengan yang besar.  (Al – Qur’an dan terjemahnya, Depag, 1990).
Ayat diatas mengisyaratkan adanya 2 golongan di bumi ini yang senantiasa dido’akan malaikat pemikul ‘arsy. Lalu siapa orang-orang yang beruntung terpilih menjadi golongan yang dido’akan itu? Allah Swt, telah menyebutkan tanda-tanda mereka dengan jelas.
Pertama, adalah mereka yang kembali kepangkuan ilahi dan mengikuti jalan-Nya (bertaubat). Karena sesunggunya manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah (kesucian). Lewat hati nurani, fitrah sering membisikkan kejujuran , kesucian, keta’atan dan kesholehan (ia bersifat hanief, artinya selalu cenderung kepada kebenaran).fitrah inilah yang sering menegur kita, apakah kita akan memilih gemerlap dunia dengan segala pesonanya, walau kita harus melanggar hokum, menodai janji, dan mengkhianati amanah. Atau memilih keteguhan pendirian dan disiplin, walau kita harus hidup sederhana dan prihatin. Fitrah inilah yang menyebabkan hati kita mudah tersentuh oleh penderitaan orang lain, mudah terdengar oleh bisikan firman allah Swt, atau bisa khusu’ dalam melaksanakan sholat. tetapi karena manusia juga makhluk yang lemah, sering dalam perjalanan hidupnya ia terpedaya oleh hawa nafsunya, dan meninggalkan fitrahnya yang sejak semula telah bermaqom dalam qolbunya. Berbehagialah orang-orang yang ditengah perjalanan hidupnya, segera menyadari kesalahannya dan kemudian segera kembali kepada fitrahnya. Ditutupnya lembaran masa lalunya yang hitam kelam dan dirintisnya kehidupan baru di atas ajaran allah Swt. Mereka bukanlah orang yang tidak pernah bersalah, melainkan orang-orang yang yang telah menyadari kesalahannya dan mau memperbaikinya. Mereka itulah orang-orang yang telah kembali dan mengikuti jalan-Mu. (lilladzina taabuu wattaba’uu sabiilaka). Mereka itulah yang diampuni dosanya dan diterima taubatnya.
Sebagaimana firman-Nya: “Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman, sesungguhnya tuhan kamu (sesudah taubat yang disertai dengan iman itu), adalah maha pengampun lagi maha penyayang.” (QS. 7:153, Depag,1990)
            Golongan kedua, yang dido’akan oleh para malaikatpemikul ‘Arsy, adalah mereka yang mengisi hidupnya dengan iman dan amal sholeh, lalu keluargannya mengikuti mereka dengan iman dan amal sholeh pula (wa man shalaha min abaaihim wa aswaajihim wa dhurriyyaatihim). Abdullah bin abbas, dalam riwayat hadis yang dikeluarkan Ath-Thabrani dan Ibn Mardawiyah, meriwayatkan sabda Rosullulah Saw yang artinya ;
“ ketika seseorang masuk surga ia menanyakan orang tuanya, isterinya, anak-anaknya. Lalu dikatakan kepadannya, bahwa (amal) mereka tidak mencapai derajat amalmu. Ia berkata, yaa rabii, aku beramal bagiku dan bagi mereka. Lalu Allah Swt, memrintahkan untuk menyusul keluarganya kesurga itu.”
Setelah itu Ibn Abbas membacakan ayat ke-21 surat ath-thur: “dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mengikuti mereka dalam keimanan, kamu hubungkan anak cucu mereka dengan mereka (maksudnya anak cucu mereka yang beriman itu ditinggikan Allah derajatnya sebagaimana derajat bapak-bapak mereka dalam surga), dan kami tiada mengurangi sedikitpun pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa ang dikerjkannya.” (Depag,1990).
Dengan demikian, keluarga yang diikat oleh ikatan iman dan amal shaleh, tidak akan berpisah sampai hari akhir sekalipun.
            Jadi 2 golongan itu lah yang senantiasa dido’akan para malaikat pemikul ‘Arsy untuk diampuni dan diterima taubatnya oleh Allah Swt. Bahkan disediakan bagi mereka (bapak,ibu, anak da cucu) kapliingan keluarga besar di surga ‘And. Wallaahua’laam…..

(diolah dari j rakhmat,2002, dan berbagai sumber - ahar)

Komentar